Kurangnya iman bukanlah kegagalan logika; melainkan kegagalan imajinasi. Kurangnya iman adalah ketidakmampuan atau keengganan untuk memikirkan Tuhan. ‘
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.’ (Efesus 3:20)
Apakah Anda mengerti? Tuhan ingin memberdayakan imajinasi Anda!
Mark Batterson menulis: ‘Jika kita ingin memberikan dampak abadi pada jati-diri kita, kita tidak bisa hanya mengkritik atau menirunya. Kita harus menciptakannya. Jika kita ingin menjangkau generasi kita dengan Injil, kita tidak bisa hanya mengandalkan logika. Kita harus menarik imajinasi mereka.
Dan CS Lewis adalah contoh hebat dari keduanya. Dapatkah Anda memikirkan orang yang lebih logis daripada Lewis? Tulisan- tulisan teologisnya, dari Mere Christianity hingga The Problem of Pain, sama logisnya dengan logika. Namun, Lewis memadukan logika otak kiri dengan kreativitas otak kanan. The Chronicles of Narnia terus menarik imajinasi generasi baru.
Gereja seharusnya menjadi tempat paling kreatif di planet ini. Dan tentu saja ada banyak kecerdikan dan imajinasi, tetapi kita masih jauh dari potensi kreatif kita.’
Mungkin ini karena kita memiliki definisi yang salah tentang kesetiaan. Kesetiaan bukanlah melakukan sesuatu sebagaimana yang selalu dilakukan. Kesetiaan bukanlah mempertahankan status quo. Tidak, kita tidak boleh melunturkan Injil atau mengkompromikan ajaran alkitab demi relevansi budaya.
Intinya: pesan kita tidak boleh berubah, tetapi metode kita harus berubah jika kita ingin mengumpulkan panen terakhir sebelum Sang Penguasa panen datang kembali.
