Untuk mengatakan ya pada kehendak Tuhan, Anda harus mengatakan tidak pada hal-hal lain. Sebagian orang tidak akan menyukainya, terutama jika mereka terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang-orang akan menuntut Anda berdasarkan kebutuhan mereka dan tidak menyadari atau tidak peduli dengan kebutuhan Anda. Jadi, Anda punya pilihan: dipimpin oleh Tuhan atau oleh orang lain.
Tidak ada seorang pun yang lebih sibuk daripada Yesus atau memiliki tugas yang lebih besar. Namun kita membaca, ‘Waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota- kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”’ (Markus 1:37–38) Setelah menyelesaikan tugasnya di kota itu, Yesus memilih untuk tetap fokus pada misi-Nya untuk terus berkhotbah di rumah-rumah ibadat di seluruh Galilea.
Dengan cara itu, Ia dapat berkata kepada Bapa surgawi-Nya di akhir hidup-Nya, ‘Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.’ (Yohanes 17:4)
Jika Anda merasa sulit untuk mengatakan tidak, berhentilah dan bayangkan dalam benak Anda apa yang akan terjadi saat Anda mengatakan tidak. Satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut atau rasa tidak aman Anda di sisi ini adalah dengan mulai mengambil risiko kecil hingga Anda akhirnya merasa nyaman untuk mengatakan tidak dengan tegas. Dengan mengatakan ya kepada seseorang yang menolak untuk mempelajari keterampilan baru dan mampu mereka kuasai, Anda justru ‘mendukung mereka’. Tetapi seseorang terlilit utang karena pengeluaran yang sembrono, Anda tidak membantu mereka dengan mengatakan ya untuk menyelamatkan mereka. Jadi, belajarlah untuk mengatakan tidak.
