Untuk memahami betapa kuat dan efektifnya doa, lihatlah dari perspektif neurologis. Di dasar otak kita terdapat sekelompok saraf yang disebut sistem aktivasi retikuler (SAR), yang memantau lingkungan kita. Kita terus-menerus dibombardir dengan rangsangan yang tak terhitung jumlahnya untuk mendapatkan perhatian kita, dan tugas SAR adalah menentukan apa yang perlu diperhatikan atau sebaliknya.
Misalnya, Anda mengunduh nada dering baru untuk ponsel Anda dan yakin belum pernah mendengar sebelumnya. Namun setelah mengunduhnya, sepertinya semua orang memiliki nada dering yang sama. Bukan berarti banyak orang yang mengunduhnya saat Anda mengunduhnya, melainkan fakta sederhana bahwa saat Anda mengunduh nada dering itu, ia menciptakan sebuah kategori di SAR Anda. Nada dering itu tidak diperhatikan oleh Anda sebelum Anda mengunduhnya karena itu tidak penting bagi Anda. Setelah Anda mengunduh nada dering itu, SAR mengenalinya sebagai yang perlu diperhatikan.
Doa bekerja seperti itu. Ketika Anda berdoa untuk seseorang atau sesuatu, doa menciptakan sebuah kategori dalam SAR Anda. Sekarang Anda memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan doa-doa tersebut. Mark Batterson menulis: ‘Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ketika Anda berdoa, secara kebetulan terjadi? Dan ketika Anda tidak berdoa, ’yang kebetulan’ itu tidak terjadi? Itu bukan sekadar kebetulan, itu adalah pemeliharaan Tuhan.
Doa menciptakan kesempatan-kesempatan ilahi. Namun, doa juga menguduskan sistem aktivasi retikuler dan memungkinkan kita untuk melihat kesempatan-kesempatan yang ditetapkan Tuhan yang ada di sekitar kita sepanjang waktu. Dan begitu kita melihatnya, kita harus mengaktifkan iman kita dan meraihnya.’ Doa adalah jalur menuju kerajaan Tuhan dan melaluinya berkat-berkat- Nya mengalir kepada kita.
Jadi, berdoalah setiap hari.
