Ada sebuah cerita tentang kunjungan seorang turis Amerika ke rumah seorang rabi Polandia abad ke-19. Turis itu terkejut karena perabotan di rumah itu sangat minim dan murah. Ruang tamunya, sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi buku-buku, berisi sebuah meja dan bangku. Ketika turis itu bertanya kepada rabi itu, “Di mana semua perabotanmu?” ia menjawab, “Di mana perabotanmu?” Pria itu bertanya, “Apa maksudmu? Aku seorang pengunjung. Aku hanya lewat.” “Aku juga!” jawab rabi itu. “Tiba-tiba lewat” berlaku bagi kita masing-masing; kita adalah makhluk waktu dan anak-anak keabadian.
Pada kenyataannya, orang Kristen adalah warga surga yang pulang melalui bumi. ‘Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.’ (Filipi 3:20) Surga lebih dari sekadar tujuan atau doktrin. Bagi anak-anak Tuhan yang telah ditebus, surga seharusnya menjadi pola pikir; cara berpikir dan hidup. Paulus menulis: ‘Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.’ (Kol 3:1–3)
Surga adalah Bintang Utara kita. Biarkan keindahannya memikat imajinasi Anda, nilai-nilainya menentukan perilaku Anda, keabadiannya menebus rentang hidup Anda yang singkat, dan Rajanya yang mahakuasa memiliki penyembahan seumur hidup Anda! Bagi kita yang hidup sebentar di bumi, Surga seharusnya menjadi kebenaran yang mengubah hidup. Kita tidak ada di sini untuk tinggal. Kita adalah peziarah dalam perjalanan, dengan takdir yang mulia untuk menghabiskan kekekalan di rumah Bapa kita. (Yohanes 14:2.) Kita sedang menuju ke rumah selamanya!













Leave a Reply