Seorang pakar perkawinan mengatakan seorang ibu yang hidup sendiri mengiriminya sebuah cerita yang membantu menjelaskan kesepian dan stres yang dihadapi oleh mereka yang membesarkan anak-anak sendirian.
Ia berkata bahwa ia sedang melihat ke luar jendela pada suatu hari yang gerimis dan melihat seekor induk burung robin dan anak-anaknya bertengger di sebuah sarang. Saat hujan turun deras, induk burung itu menutupi anak-anaknya yang berkicau di bawah sayapnya yang terentang.
Kemudian hujan es mulai turun. Daripada menyembunyikan kepalanya dengan aman di dalam sarang, induk burung robin itu mengangkat kepalanya ke atas dan menerima pukulan untuk melindungi anak-anaknya. Semua anak burung berhasil melewati badai dengan selamat. Sungguh ilustrasi grafis tentang bahaya menjadi orang tua tunggal!
Tanggung jawab membesarkan anak-anak sendirian tidak ada habisnya, mengharuskan ibu atau ayah untuk mencari nafkah, memasak, membersihkan, mengawasi pekerjaan rumah, merawat anak-anak yang sakit, dan sebagainya.
Di luar tugas-tugas sehari-hari ini, mereka harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan rohani mereka sendiri. Jika dilihat dari konteksnya, ini mungkin salah satu tugas terberat di dunia. Orang tua tunggal, baik ibu maupun ayah, membutuhkan dukungan dan doa kita yang berkelanjutan.
Bagi mereka yang menanggung pukulan demi anak-anak mereka, yakinlah bahwa akan ada hari-hari yang lebih baik. Badai yang Anda hadapi tidak akan berlangsung selamanya.
Pelangi yang indah akan segera muncul. Ketika pekerjaan telah selesai dan sekumpulan burung kecil yang sehat telah dibesarkan, akan ada manfaat yang manis bagi orang tua yang tidak terbang menjauh. Firman Tuhan berjanji, ‘sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.’ (Mazmur 30:5)
