Apakah Anda menganggap diri Anda sebagai orang yang beriman kepada Tuhan? Apakah pikiran dan perkataan Anda mencerminkan hal itu? Kita dapat menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa kita memiliki iman yang besar, tetapi jika tantangan dengan mudah mengalahkan kita, maka mungkin iman kita tidak sebesar yang kita kira. Yesus berkata, ‘yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.’ (Lukas 6:45)
Anda dapat belajar banyak tentang diri Anda sendiri dengan mendengarkan apa yang Anda katakan. Apakah pikiran dan perkataan Anda menunjukkan ketergantungan Anda kepada Tuhan, menyadari bahwa kemampuan-Nya, bukan kemampuan Anda, memampukan Anda untuk melakukan apa pun yang perlu Anda lakukan? Agar perkataan Anda benar, Anda harus meluruskan hati Anda. Dan untuk melakukannya, Anda harus menyelaraskan pikiran Anda dengan Firman Tuhan. Itu berarti bersedia menghadapi apa pun yang ingin Dia tunjukkan kepada Anda dan meminta-Nya untuk mengubah Anda.
Jika Anda percaya pada kekuatan Anda sendiri, mulailah percaya kepada Tuhan. Jika Anda mencoba melakukan sesuatu dengan kemampuan Anda sendiri dan menjadi jengkel, beri tahu Tuhan bahwa Anda ingin Dia bekerja melalui Anda, dan biarkan kesanggupan-Nya menjadi milik Anda.
Paulus menuliskan, ‘Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.’ (2 Korintus 3:5) Perkataanmu bagaikan wadah, jadi jangan isi dengan hal- hal yang dapat melemahkanmu. Sebaliknya, berpeganglah pada ayat firman Tuhan ini: ‘Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.’ (2 Korintus 9:8) Ketika Anda berbicara, selalu setujui Firman Tuhan.
