Ada sebuah kisah tentang seorang wanita yang berkata kepada temannya, “Saya dan suami memiliki pernikahan yang bahagia. Tidak ada yang tidak akan saya lakukan untuknya, dan tidak ada yang tidak akan dia lakukan untuk saya. Itulah sebabnya kami hidup bahagia—kami tidak pernah melakukan apa pun untuk satu sama lain!”
Kisah ini mungkin terdengar lucu, tetapi jika benar-benar terjadi, itu adalah gambaran hubungan yang sedang menuju kehancuran. Sikap mementingkan diri sendiri dapat merusak pernikahan, bisnis, gereja, persahabatan, bahkan kerja sama dalam tim. Tidak sedikit orang bergabung dalam sebuah tim hanya demi keuntungan pribadi. Mereka menginginkan orang lain bekerja keras sementara mereka sendiri menikmati pujian dan hasilnya. Pada akhirnya, sikap seperti ini bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga menghambat keberhasilan yang sebenarnya bisa diraih bersama.
Presiden Amerika Serikat ke-28, Woodrow Wilson, pernah berkata:
“Anda ada di dunia ini bukan hanya untuk mencari nafah. Anda ada untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, dengan visi yang lebih luas, semangat yang lebih besar, serta harapan dan pencapaian yang lebih tinggi. Anda ada untuk memperkaya dunia, dan Anda merugikan diri sendiri jika melupakan tugas itu.”
Perkataan ini mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah tentang memanfaatkan orang lain, melainkan menjadi berkat bagi sesama. Ketika seseorang memilih mengeksploitasi, menggunakan, atau mengambil keuntungan dari orang lain demi kepentingannya sendiri, pada akhirnya ia sedang membangun kegagalannya sendiri.
Apakah selalu mudah bekerja sama dengan orang lain? Tentu tidak. Ada kalanya perbedaan pendapat, karakter, dan cara berpikir membuat hubungan menjadi sulit. Namun justru di situlah kita dipanggil untuk terus berusaha menjaga persatuan.
Firman Tuhan berkata:
“Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.”
— Efesus 4:3
Perhatikan kata “berusahalah.” Kesatuan tidak terjadi dengan sendirinya; kesatuan harus diupayakan. Ketika seseorang mengkritik, balaslah dengan kata-kata yang membangun. Ketika seseorang mengeluh, jadilah pribadi yang membawa ucapan syukur. Ketika seseorang mulai bersikap egois, ingatkan dengan kasih bahwa tujuan bersama selalu lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Mari menjadi pribadi yang hidup untuk melayani, bukan untuk dilayani. Ketika kita mengutamakan kebersamaan, saling mendukung, dan menjaga damai sejahtera, Tuhan akan memakai hidup kita untuk membawa dampak yang lebih besar bagi orang-orang di sekitar kita.













Leave a Reply