Berikut adalah rangkapan khotbah Ps. Cellvia Marliana dengan tema “Perjanjian Kasih Setia Tuhan”
1. Memahami Perjanjian Kasih Setia (Hesed)
-
Dasar Alkitab: Yesaya 54:10 menyatakan bahwa biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, kasih setia dan perjanjian damai Tuhan tidak akan beranjak dari kehidupan kita.
-
Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, ada kepastian mutlak di dalam Tuhan. Perjanjian damai-Nya telah dibuktikan secara nyata melalui pengorbanan Yesus yang rela mati di kayu salib demi menebus kita.
-
Dalam bahasa Ibrani, kasih setia ini disebut Hesed, yang berarti kasih yang berkomitmen penuh pada perjanjian. Karakteristik kasih Hesed ini meliputi:
-
Bukan kasih yang bersifat transaksional (untung-rugi).
-
Kasih yang tidak pernah menyerah terhadap keadaan kita.
-
Kasih yang tidak akan pernah meninggalkan.
-
Kasih yang sanggup memulihkan dan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan.
-
Kesaksian Pribadi: Pembicara membagikan cerita tentang mimpi yang dialaminya 2 minggu sebelum suaminya (Pak Daniel) dipanggil pulang oleh Tuhan. Melalui peristiwa sedih tersebut, Tuhan menguatkan hatinya dengan memberikan kedamaian (yang disimbolkan melalui buket bunga biru di dalam mimpi). Hal ini membuktikan bahwa ada kesetiaan dan pimpinan Tuhan yang sempurna di tengah badai kehidupan.
2. Perjanjian Kasih Setia Sebagai Kompas dan Fondasi
-
Hubungan perjanjian ini adalah hubungan antara Bapa dan anak. Oleh karena itu, di dalamnya tetap ada proses didikan, teguran, dan pembentukan karakter agar sikap serta pemikiran kita diubah menjadi serupa dengan gambaran-Nya (2 Korintus 3:18).
-
Jemaat diajak untuk tetap percaya saat tidak mengerti, tetap taat saat ada proses, dan tetap berjalan walau janji-Nya belum terlihat secara kasat mata. Kita harus berpegang pada Roma 8:28 bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.
3. Belajar dari Perjalanan Hidup Yusuf: Dari Sumur ke Istana
Mimpi dari Tuhan bisa diberikan dalam sekejap, namun penggenapannya membutuhkan sebuah proses yang panjang.
-
Fase Sumur: Sumur adalah tempat di mana Yusuf belajar untuk memotong semua kekecewaan, kemarahan, kepahitan, dan penolakan dari saudara-saudaranya. Sumur bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat persinggahan dan persiapan hati bagi Yusuf untuk belajar rendah hati serta bergantung penuh kepada Tuhan.
-
Analogi Kain Tenun & Puzzle: Kehidupan sering kali tampak berantakan dan kusut jika kita melihatnya dari sudut pandang belakang (seperti bagian belakang kain tenun atau potongan puzzle yang belum tersusun rapi). Namun, Tuhan sedang melihat gambar yang utuh. Ia sedang menyusun setiap kepingan kehidupan kita agar menjadi akhir yang indah dan sempurna.
-
Sikap Yusuf Saat Menghadapi Tekanan: Baik di rumah Potifar maupun di dalam penjara, Yusuf memiliki roh takut akan Tuhan. Ia sangat menghormati Allah, sehingga dengan tegas menolak godaan istri Potifar dan berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9).
-
Buah Keteguhan Hati: Karena Yusuf menjaga hidupnya tetap benar, Tuhan menyertainya secara luar biasa sehingga ia selalu berhasil dalam pekerjaannya dan bahkan dijadikan kesayangan oleh kepala penjara (Kejadian 39:2).
-
Fase Istana: Istana adalah tempat penggenapan janji Tuhan. Yusuf dibawa ke puncak destiny-nya bukan hanya untuk keberhasilan dirinya sendiri, melainkan untuk menggenapi rencana Tuhan yang lebih besar, yaitu memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20). Perjanjian kasih setia Tuhan di dalam hidup kita pun dirancang agar kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Kesimpulan & Doa Penutup
Sebagai orang yang memegang perjanjian kasih setia Tuhan, kita harus memiliki pola pikir yang baru. Jemaat diingatkan untuk tidak menyerah, tidak berhenti di tengah jalan, dan segera bangkit saat terjatuh karena tangan Tuhan selalu menopang.
